Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
Sementara itu, dalam sesi arahan yang diberikan kepada seluruh peserta rapat, Pastor Rekan Paroki Santa Familia, RD Yohanes Kiri, S.Fil., mengingatkan hal yang sangat mendasar. Romo Yan Kiri –demikian beliau akrab disapa– menegaskan bahwa dalam menyusun seluruh rangkaian kegiatan, panitia wajib selalu mempertimbangkan situasi dan kondisi umat saat ini. Prinsip utama yang harus dipegang teguh adalah perayaan syukur ini harus dilaksanakan secara sederhana dan bersahaja.
Menurut Romo Yan Kiri, ada empat pedoman utama yang harus menjadi landasan kerja seluruh panitia. Pertama, seluruh kegiatan harus mampu melibatkan partisipasi aktif umat secara luas. Kedua, perayaan harus menjadi ungkapan syukur yang bersahaja, bukan kemewahan. Ketiga, fokus utama acara adalah untuk mensyukuri rahmat tahbisan yang diterima dari Tuhan, bukan sekadar seremonial belaka. Keempat, perayaan ini harus menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan sejati antar sesama anak Allah.
“Perayaan ini hendaknya tidak dibuat terlalu mewah atau berlebihan. Biarlah kesederhanaan menjadi kekuatan kita, sehingga makna persaudaraan dan rasa syukur itu sendiri yang paling menonjol dan terasa di hati setiap orang yang hadir,” tegas Romo Yan Kiri.
