Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
Wali Kota juga menyebut Kelurahan Naikoten II sebagai miniatur Kota Kupang karena masyarakat dari berbagai suku dan etnis hidup berdampingan di wilayah tersebut. Keadaan ini, katanya, merupakan kekayaan sosial yang harus dirawat bersama.
Ia mengingatkan bahwa budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk masa depan.
“Kalau kita memandang budaya hanya sebagai warisan, kita bisa merasa bahwa budaya itu sepenuhnya milik kita. Tetapi jika kita menyadari bahwa budaya juga merupakan pinjaman dari anak cucu kita, maka kita akan menjaganya dengan baik karena suatu saat harus kita teruskan kepada mereka,” tuturnya.
Perbedaan Bukan Penghalang Persatuan
Lebih lanjut, Christian menegaskan bahwa keberagaman suku, etnis, dan latar belakang bukanlah penghalang untuk membangun kehidupan yang harmonis. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila masyarakat saling menghormati dan menjaga persaudaraan.
Menurutnya, harmoni tidak berarti semua orang harus memiliki latar belakang yang sama. Keharmonisan justru tercipta ketika masyarakat mampu hidup berdampingan, saling menghargai, dan bekerja sama di tengah perbedaan.
“Keberagaman di Kota Kupang tidak pernah menjadi penghalang, tetapi selalu menjadi kekuatan. Tidak pernah menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan. Persatuan itu bukan berarti kita harus menjadi sama, melainkan mampu berjalan bersama walaupun berbeda,” tegasnya.
