YBR DAN TIKUS DI RUMAH SUCI: REFLEKSI SOSIAL TERHADAP TRAGEDI YANG MENIMPANG BOCAH 10 TAHUN

| Editor: Wanster Buu
Germanus Atawuwur

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com

+Gabung

Oleh : Germanus Attawuwur (Warga Kota Kupang)

Kupang, Suluh-Desa.com– Penulis sebenarnya tidak ingin menulis tentang YBR, bocah berusia 10 tahun yang ditemukan tidak bernyawa pada 29 Januari 2026 setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Kasus ini sudah begitu viral, namun saya memilih untuk menulis sebagai refleksi sosial yang terinspirasi oleh seruan Nabi Yesaya: “Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes.58:7)”.

TRAGEDI YBR: KISAH YANG MEMILUHKAN

Ketika mendengar seruan Yesaya tersebut, pikiran saya langsung tertuju pada YBR yang tidak mendapatkan apa yang diserukan nabi. Saya juga teringat judul buku yang sedang gencar dipromosikan, “Tikus di Rumah Suci” karya Romo Sipri Senda, Pr – Imam Keuskupan Agung Kupang sekaligus dosen calon imam. Meskipun belum membacanya, judul ini terasa sebagai ungkapan kejujuran dan keberanian untuk mengintrospeksi diri kaum berjubah yang berada “di rumah suci”.

Menurut Pater Paul Glynn, SM, “Perjalanan Kembali Ke Dalam Diri Sendiri” adalah hal yang menarik karena bisa memberikan inspirasi dan kekuatan untuk membaharui hidup, namun juga tidak menyenangkan karena akan berjumpa dengan kekurangan dan dosa-dosa diri. Romo Sipri tampaknya telah melakukan perjalanan tersebut dan meretrospeksi kondisi kekinian yang ada di tengah gereja.

Pos terkait