YBR DAN TIKUS DI RUMAH SUCI: REFLEKSI SOSIAL TERHADAP TRAGEDI YANG MENIMPANG BOCAH 10 TAHUN

| Editor: Wanster Buu
Germanus Atawuwur

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com

+Gabung

RESpon PEMERINTAH DAN PERTANYAAN TERHADAP GEREJA

Pemerintah tidak tinggal diam dan mengambil langkah tindak lanjut. Gubernur NTT Melki Laka Lena mengunjungi keluarga YBR, mengakui kelalaian pemerintah, meminta maaf atas nama negara, serta mendorong proses hukum bagi pihak yang mempermainkan data kemiskinan. Tragedi ini juga menjadi dasar untuk evaluasi dan pembenahan sistem pendataan serta program penanggulangan kemiskinan.

Namun sebuah pertanyaan muncul dari seorang teman kantor penulis dengan mata berkaca-kaca: “Di manakah pihak gereja? Bukankah YBR dan ibunya adalah juga warga gereja? Bukankah pihak gereja selalu berapi-api berkotbah tentang kasih?”

ALARM PSIKOLOGIS ANAK

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan perlindungan anak. YBR telah tiada, namun dia meninggalkan kisah tentang tercabiknya rasa kemanusiaan – sebuah peringatan bagi kita semua untuk tidak hanya berbicara, tetapi benar-benar bertindak dengan empati dan solidaritas yang konkrit.

“Hari Kelabu
Dia telah Tiada
Dia Tinggalkan Kisah Tercabiknya Rasa Kemanusiaan
Tikus Di Rumah Suci
Gerakan Gesture Solidaritas Konkrit”

Pos terkait