Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
“PREFFERENTIAL OPTION FOR THE POOR” YANG HANYA RETORIKA?
Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes No.1 menegaskan solidaritas Gereja dengan umat manusia, terutama yang miskin dan menderita, yang kemudian menjadi dasar “Preferential option for the poor” (Pilihan untuk mendahulukan mereka yang miskin) dalam Teologi Pembebasan.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa YRB dan keluarganya tidak pernah merasakan manfaat dari slogan tersebut. Mereka sering mendengar kotbah tentang kasih dan peduli sesama dari atas mimbar, namun retorika itu hanya menggema di ruang-ruang suci. Dinding-dinding biara tampaknya enggan terbuka untuk turut serta dalam bela rasa terhadap YRB, yang pada akhirnya meregang nyawa karena merasa tidak dianggap penting (no body). Gereja tampak abai dan menyembunyikan diri dari penderitaan YRB dan banyak orang lain seperti dia.
APAKAH ADA TIKUS DI RUMAH SUCI?
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa dana solidaritas gereja tidak menjangkau orang seperti YBR? Jika ada “tikus di rumah suci”, mereka adalah mereka yang hanya berbicara tanpa bertindak (NATO/No Action Talk Only), atau sebagaimana orang Kupang bilang, “habis di omong sa”. Mulutnya penuh dengan hukum kasih, namun mereka justru seperti predator yang menggerogoti hak orang miskin dan menderita.




