Cegah Kekerasan Seksual Digital, Pemkot Kupang Gandeng Pemuda Katolik Edukasi Kaum Muda

Poster Kegiatan Kolaborasi Pemkot Kupang dan PK Komcab Kota Kupang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com

+Gabung

Kupang, Suluh-Desa.Com – Ancaman kekerasan seksual di ruang digital menjadi perhatian Pemerintah Kota Kupang dan Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kota Kupang. Keduanya berkolaborasi memberikan edukasi kepada kaum muda agar mampu mengenali, mencegah, dan merespons berbagai bentuk kekerasan seksual berbasis elektronik.

Edukasi tersebut digelar melalui kegiatan bertema “Cegah Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik melalui Literasi Digital, Nilai Moral, dan Kesehatan Psikologi” di Aula KSP Solidaritas Kota Kupang, (04/09).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Iklan anda ingin di lihat ribuan orang?  Hubungi Kami!!!

Kegiatan itu diikuti Orang Muda Katolik (OMK) dari berbagai paroki di Kota Kupang serta mahasiswa dan mahasiswi STIPAS Keuskupan Agung Kupang.

Foto Bersama Peserta Kegiatan

Kekerasan Seksual Tak Hanya Terjadi di Ruang Fisik

Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, mengatakan perkembangan teknologi telah membuka banyak ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Namun, di sisi lain, ruang digital juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan kekerasan seksual.

Menurut Valentinus, kekerasan seksual berbasis elektronik dapat berupa penyebaran konten intim tanpa persetujuan, pelecehan melalui media sosial, pemaksaan, ancaman hingga tindakan manipulatif yang memanfaatkan teknologi.

Karena itu, kaum muda perlu memiliki kemampuan untuk mengenali risiko sekaligus memahami bagaimana menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

“Generasi muda harus mampu menggunakan teknologi secara cerdas, sehat, dan bertanggung jawab. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk membangun dan mengembangkan diri justru digunakan untuk merendahkan, menyakiti, atau mengeksploitasi orang lain,” kata Valentinus.

Ia menilai literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital harus dibarengi kesadaran menjaga privasi, menghormati orang lain serta memahami konsekuensi setiap aktivitas di ruang digital.

Moral dan Kesehatan Psikologis Jadi Perhatian

Valentinus juga menekankan pentingnya penguatan nilai moral dan karakter sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Menurut dia, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan moral dan kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, teknologi dapat digunakan sebagai sarana membangun diri, bukan menjadi alat untuk merendahkan atau mengeksploitasi orang lain.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dampak psikologis terhadap korban.

Kekerasan seksual berbasis elektronik dapat menimbulkan rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, kecemasan hingga trauma.

Karena itu, kaum muda yang mengalami atau mengetahui adanya kekerasan seksual di ruang digital didorong untuk tidak memilih diam.

Valentinus mengajak korban maupun pihak yang mengetahui kejadian tersebut untuk berani berbicara dan mencari pertolongan. Keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, Gereja dan pemerintah, kata dia, harus mampu menjadi ruang aman bagi korban untuk memperoleh pendampingan.

Foto Kepala Dinas Perhubungan Kota Kupang, Benediktus Mere, bersama Kabag Kesra, perwakilan Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pertanian, Lurah Kayu Putih, Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang Valentinus Kopong Masan, dan Pastor Moderator R.D. Andre Aloa berfoto usai membuka kegiatan.

Pemkot Tekankan Pentingnya Kolaborasi

Sementara itu, Wali Kota Kupang yang diwakili Kepala Dinas Perhubungan Kota Kupang, Benediktus Mere, mengapresiasi keterlibatan Pemuda Katolik dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pencegahan kekerasan seksual berbasis elektronik.

Benediktus mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri.

Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, keluarga dan masyarakat.

“Pencegahan kekerasan seksual membutuhkan kesadaran bersama. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, Gereja, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi sangat penting,” demikian pesan Wali Kota Kupang yang disampaikan melalui perwakilannya.

Benediktus juga mendorong kaum muda memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif dan produktif.

Kaum muda perlu dibekali pengetahuan agar mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan dan kejahatan di ruang digital sekaligus mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan tersebut.

Kaum Muda Didorong Jadi Agen Perubahan

Tidak berhenti pada peserta kegiatan, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada lingkungan yang lebih luas.

Benediktus mengajak peserta menjadi agen perubahan dengan membagikan pemahaman tersebut kepada teman sebaya, keluarga, komunitas dan masyarakat.

Keterlibatan OMK dari berbagai paroki dan mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang menunjukkan bahwa persoalan keamanan ruang digital menjadi perhatian penting bagi generasi muda.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemkot Kupang dan Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, nilai moral dan kesadaran terhadap kesehatan psikologis.

Upaya bersama itu diharapkan dapat mendorong terciptanya ruang digital yang lebih aman, sehat dan bermartabat serta bebas dari berbagai bentuk kekerasan seksual.**

Pos terkait