Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
Kupang, Suluh-Desa.Com – Kota yang bersih tidak lahir dari kerja seorang pahlawan. Ia tumbuh dari tangan-tangan banyak orang yang setiap hari mau memungut sampah, membersihkan selokan, merawat lingkungan, dan menggerakkan warga untuk peduli.

Karena itu, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyampaikan satu pesan yang sederhana namun kuat “Tidak ada Superman, yang ada Super Team.”
Pesan tersebut disampaikan saat Pemerintah Kota Kupang memberikan apresiasi kepada 10 kelurahan yang dinilai berhasil dalam lomba kebersihan antarkelurahan. Penghargaan itu diserahkan di Shoto-Kai Resto & Cafe, Kelurahan Sikumana, Selasa (15/09).
Bagi Christian, kebersihan bukan sekadar urusan seorang lurah atau petugas kebersihan. Di balik lingkungan yang tertata ada kerja bersama aparatur kelurahan, RT/RW, petugas lapangan dan terutama masyarakat.
Satu orang mungkin bisa memulai gerakan. Tetapi untuk membuat sebuah kota tetap bersih, dibutuhkan banyak orang yang bergerak bersama.
Dalam lomba tersebut, Kelurahan Nunbaun Sabu keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua diraih Kelurahan Oepura, sedangkan Kelurahan Liliba menempati posisi ketiga.
Tiga kategori berikutnya ditempati Oebufu sebagai Harapan I, Batuplat sebagai Harapan II, dan Naikoten I sebagai Harapan III.
Empat kelurahan lainnya melengkapi daftar 10 besar. Nefonaek berada di peringkat ketujuh, Merdeka di posisi kedelapan, Oesapa Barat di peringkat kesembilan, dan Bonipoi menempati peringkat ke-10.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas berbagai upaya yang dilakukan masing-masing kelurahan dalam menjaga kebersihan dan menata lingkungan.
Namun, bagi Pemerintah Kota Kupang, kegiatan tersebut tidak semata-mata tentang menentukan siapa yang menjadi juara.
Lebih jauh, lomba kebersihan diharapkan mampu menjadi pemicu agar budaya menjaga lingkungan tumbuh di tengah masyarakat.
Tak Sekadar Mencari Juara
Wali Kota Christian juga mendorong agar pelaksanaan lomba kebersihan pada masa mendatang dapat dikembangkan dengan sistem penilaian yang lebih beragam.
Menurutnya, kompetisi tidak harus hanya melihat kelurahan yang memperoleh nilai tertinggi.
Ada berbagai aspek lain yang juga layak diberikan penghargaan. Misalnya, kelurahan dengan peningkatan kebersihan paling signifikan, kelurahan terhijau, tingkat partisipasi masyarakat terbanyak, hingga kebersihan drainase atau selokan.
Gagasan tersebut membuka peluang bagi lebih banyak kelurahan untuk mendapatkan apresiasi atas perubahan yang mereka lakukan.
Kelurahan yang sebelumnya belum mampu menjadi juara utama tetap dapat menunjukkan capaian melalui kategori lain.
Dengan demikian, lomba tidak hanya mendorong persaingan, tetapi juga memberikan ruang bagi setiap wilayah untuk berkembang sesuai kondisi dan tantangannya masing-masing.
Kebersihan Dimulai dari Warga
Persoalan kebersihan pada akhirnya tidak dapat diselesaikan hanya melalui program pemerintah.
Pemerintah dapat menyediakan kebijakan, fasilitas dan dukungan. Namun, keberlangsungan lingkungan yang bersih sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sampah yang dibuang sembarangan dapat merusak lingkungan. Saluran air yang dipenuhi sampah dapat menghambat aliran ketika hujan. Ruang publik yang tidak dirawat juga akan kembali kotor meski sebelumnya telah dibersihkan.
Karena itu, kesadaran warga menjadi bagian penting dari gerakan kebersihan.
Di tingkat kelurahan, lurah dan aparat dapat menjadi penggerak. RT dan RW dapat mengorganisasi warga. Petugas kebersihan menjalankan pelayanan. Sementara masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.
Kerja bersama inilah yang kemudian menjadi makna dari pesan “Super Team” yang disampaikan Wali Kota.
Tidak ada satu pihak yang dapat mengklaim dirinya sebagai satu-satunya penentu keberhasilan.
Apresiasi untuk Kerja Bersama
Penyerahan penghargaan kepada 10 kelurahan sekaligus menjadi bentuk pengakuan terhadap kerja kolektif tersebut.
Juara memang menjadi bagian dari kompetisi. Namun, semangat yang lebih besar adalah bagaimana seluruh kelurahan terdorong untuk terus berbenah.
Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya memberikan manfaat estetika. Kebersihan berkaitan dengan kenyamanan masyarakat, kesehatan lingkungan dan kualitas ruang hidup warga.
Karena itu, ketika satu kelurahan berhasil menunjukkan perubahan, capaian tersebut dapat menjadi contoh sekaligus pemicu bagi kelurahan lainnya.
Konsep lomba yang dikembangkan dengan berbagai kategori juga dapat membuat semakin banyak warga merasa memiliki peran.
Pada akhirnya, pesan Wali Kota Kupang cukup sederhana.
Tidak perlu menunggu seorang Superman untuk membuat Kota Kupang bersih. Yang dibutuhkan adalah Super Team—lurah, aparat, RT/RW, petugas kebersihan dan masyarakat yang bergerak bersama.
Sebab, kota yang bersih bukan hanya hasil dari siapa yang memenangkan lomba, tetapi hasil dari kebiasaan banyak orang yang memilih untuk peduli terhadap lingkungannya setiap hari.






