Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
KUPANG, Suluh-Desa.Com : Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mendorong gereja mengambil peran lebih luas dalam pemberdayaan masyarakat, mulai dari pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Hal itu disampaikannya saat meresmikan Gedung Gereja GMIT Golgota Alak di Kota Kupang, Minggu (11/10). Dalam kegiatan tersebut, Johni hadir didampingi Staf Ahli TP PKK Provinsi NTT, Vera Asadoma.
Dalam sambutannya, Johni menegaskan bahwa pembangunan gedung gereja tidak boleh hanya berorientasi pada tersedianya tempat ibadah yang layak. Lebih dari itu, keberadaan gereja harus diikuti dengan pertumbuhan iman, kemajuan jemaat, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, gereja memiliki posisi strategis untuk mendukung upaya pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat NTT.
“Gereja harus menjadi mitra strategis pemerintah. Salah satunya adalah membantu pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kita. Tanpa sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, kita tidak akan maju,” ujar Johni.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan rumah ibadah hendaknya tidak terbatas pada pelaksanaan ibadah rutin setiap hari Minggu. Gereja juga perlu menjadi pusat pembinaan iman, pendidikan karakter, pengembangan kapasitas jemaat, serta pelaksanaan kegiatan sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Johni berharap gedung baru GMIT Golgota Alak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang memperkuat kehidupan rohani sekaligus meningkatkan kualitas hidup jemaat.
“Rumah Tuhan yang bagus ini tidak hanya digunakan pada hari Minggu saja. Setiap hari, rumah Tuhan ini harus menyuarakan iman Kristen. Gereja ini harus diisi dengan berbagai kegiatan yang bertujuan menumbuhkembangkan iman jemaat, meningkatkan sumber daya manusia, serta meningkatkan kesejahteraan jemaat maupun masyarakat lainnya,” tegasnya.
Gereja Diharapkan Hadir Menjawab Persoalan Masyarakat

Lebih lanjut, Johni mengajak gereja memperluas jangkauan pelayanannya agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, pelayanan gereja harus mampu menjawab kebutuhan warga, termasuk mereka yang menghadapi persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan.
Ia mengutip pemikiran dalam buku Menatap Masa Depan karya Pendeta Samuel Pandie dan rekan-rekan untuk menegaskan pentingnya pelayanan gereja yang tidak hanya berpusat pada aktivitas di dalam gedung, tetapi juga menjangkau kehidupan sosial masyarakat.
“Gereja itu tidak hanya ada di mimbar-mimbar dalam gereja, tetapi gereja harus turun ke masyarakat dan melihat apa permasalahan yang dihadapi masyarakat. Pelayanan kita harus menjangkau ke luar, bukan hanya di dalam,” tambahnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan fisik rumah ibadah perlu berjalan beriringan dengan penguatan pelayanan sosial. Dengan demikian, gereja dapat menjadi ruang yang mendorong tumbuhnya kepedulian, solidaritas, dan partisipasi jemaat dalam pembangunan masyarakat.
Dibangun Melalui Perjuangan Jemaat Selama Lima Tahun

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan, Christian Baitanu, menjelaskan bahwa pembangunan Gedung Gereja GMIT Golgota Alak merupakan hasil komitmen, kerja sama, dan perjuangan panjang jemaat bersama pemerintah serta para donatur.
Peletakan batu pertama pembangunan gereja tersebut dilakukan pada 7 September 2021 oleh Ketua Majelis GMIT Golgota Alak. Proses pembangunan berlangsung di tengah berbagai keterbatasan, tetapi dukungan dari berbagai pihak membuat harapan jemaat untuk memiliki gedung kebaktian yang layak akhirnya terwujud.
“Dalam perjalanan pembangunan ini, kami merasakan pertolongan Tuhan melalui swadaya jemaat, dukungan pemerintah, dan para donatur. Setelah melalui proses selama kurang lebih lima tahun, kerinduan jemaat akhirnya terwujud dengan berdirinya gedung kebaktian di atas lahan seluas 930 meter persegi,” ungkap Christian.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan tersebut. Menurutnya, berdirinya gedung gereja merupakan hasil kebersamaan dan semangat gotong royong yang terus dipelihara oleh jemaat.
Panitia juga tengah mengumpulkan data dan dokumentasi perjalanan pembangunan gereja untuk disusun menjadi buku sejarah GMIT Golgota Alak. Buku tersebut direncanakan terbit pada tahun mendatang sebagai dokumentasi perjuangan iman, pengorbanan, dan kebersamaan generasi terdahulu bagi generasi penerus.
Christian berharap gedung gereja yang telah diresmikan itu dapat terus menjadi tempat bagi jemaat untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta memberikan pelayanan bagi sesama.
“Kemegahan gedung ini merupakan bukti keagungan Tuhan. Kami menyampaikan terima kasih kepada Tuhan Yesus, pemerintah, para donatur, dan seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan ini. Kiranya rumah Tuhan ini terus menjadi tempat untuk memuliakan nama Tuhan dari generasi ke generasi,” tutupnya.
Dihadiri Pimpinan Gereja dan Pemerintah
Acara peresmian dan syukuran Gedung Gereja GMIT Golgota Alak turut dihadiri Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Samuel Pandie, para pendeta, anggota DPRD Kabupaten Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Camat Alak, Lurah Alak, Ketua Klasis Kota Kupang Barat beserta jajaran, serta para presbiter dan jemaat GMIT Golgota Alak.
Peresmian tersebut diharapkan menjadi momentum bagi jemaat untuk memperkuat kehidupan bergereja sekaligus memperluas kontribusi dalam pembangunan sosial di Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur secara umum.






