Mengubur Masa Depan di Ujung Pena: Ketika Harapan Menjadi Barang Mewah di NTT

| Editor: Wanster Buu
Christian Widodo tengah, bersama penari saat mengikuti kegiatan launching Fakultas Kedokteran UCB, Rabu, 05/02/26.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com

+Gabung

Kedua, birokrasi jangan menjegal empati. Pemerintah daerah wajib menyediakan dana sosial respons cepat. Jika ada keluarga miskin ekstrem yang sedang terjepit, bantuan harus tiba dalam hitungan hari, bukan bulan. Kemiskinan tidak bisa menunggu selesainya prosedur administrasi yang berbelit.

Ketiga, sekolah sebagai ruang aman. Sekolah harus menjadi garda terdepan edukasi kesehatan mental. Kita butuh sistem deteksi dini terhadap stres siswa agar keputusasaan bisa kita cegah sebelum berubah menjadi tindakan nekat.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Iklan anda ingin di lihat ribuan orang?  Hubungi Kami!!!

Menghidupkan Nurani

Ketika seorang anak tidak bisa membawa buku dan bolpoin ke kelas, itu bukan sekadar masalah domestik satu keluarga. Itu adalah sinyal bahwa sistem kita telah berhenti bekerja bagi rakyat kecil.

Mari kita renungkan kembali: Jika seorang anak harus mati karena tidak mampu memiliki buku dan bolpoin, maka yang mati sebenarnya bukan hanya satu nyawa. Yang mati adalah kemanusiaan dan nurani kita bersama. Jangan biarkan ada lagi pena yang patah sebelum sempat menuliskan masa depannya.**

Pos terkait