Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Suluh-Desa.Com
+Gabung
“Selain kami berikan pendidikan formal dan keagamaan yang layak, para anak panti ini kami latih untuk bekerja dan berkarya. Tujuannya agar suatu saat nanti mereka mampu mandiri dan bertahan hidup, karena kami sadar mereka tidak akan selamanya tinggal bersama kami di sini. Suatu saat pasti mereka akan melangkah keluar, ada yang memilih masuk kembali menjadi suster di PRR, ada yang menjadi imam atau pelayan gereja, dan tak sedikit pula yang akan memilih jalan hidup berkeluarga seperti masyarakat pada umumnya,” ungkap Suster Stanisia.
Menurut beliau, kebun sayur ini adalah lahan pembelajaran nyata, tempat anak-anak belajar bertanggung jawab, bekerja keras, dan memahami nilai uang serta hasil jerih payah.
Salah satu anak asuh lainnya turut bercerita dengan polos namun menyentuh hati, mengenai apa arti penjualan sayur kangkung ini bagi kehidupan mereka sehari-hari.
“Hasil uang dari penjualan sayur kangkung yang kami tanam dan rawat sendiri itu nantinya kami gunakan untuk membeli kebutuhan pribadi kami. Kami belikan sepatu, sendal, dan pakaian agar kami bisa tampil rapi dan layak seperti anak-anak di luar sana yang memiliki orang tua utuh atau orang tua yang berkecukupan secara ekonomi,” ujar anak tersebut.





